top of page

Memilih sekolah SD yang tepat untuk sang buah hati

Sebuah keluarga muda, sebut saja Rangga dan Dina serta anaknya Rana dan Rasyid, tengah duduk bersama di ruang tamu rumah mereka. Di antara mainan yang berserakan, tampak Rana, anak perempuan mereka yang berusia 6 tahun, sedang asyik bermain dengan adiknya, Rasyid, yang masih berusia 2 tahun. Suasana rumah tampak hangat, namun ada kegelisahan yang menggantung di udara.





Rangga dan Dina adalah tipikal keluarga "middle-class" dengan pendapatan keluarga Rp. 20 juta per bulan dan kebutuhan hidup sekitar Rp. 10-12 juta per bulan. Mereka berkecukupan namun mereka sadar ada keputusan besar yang harus diambil tentang kemana mereka harus menyekolahkan putri tercinta mereka Rana mengingat beragamnya sekolah yang tersedia saat ini. Mereka memiliki tabungan sekitar Rp. 20 juta, namun Rangga tahu bahwa biaya pendidikan Rana, yang segera akan disusul pendidikan Rasyid adiknya, akan mempengaruhi keuangan keluarga di masa depan. Sosok Rana kecil sendiri adalah gadis kecil yang ceria dan gemar sekali menggambar dan bernyanyi. Namun jika ditanya tentang masa depannya, dia akan dengan lantang menjawab "Aku mau jadi dokter!". Namun kita semua tahu bahwa perubahan adalah keniscayaan dari cita-cita seorang anak apalagi di usia yang masih sangat muda.


Untuk saaat ini, ada tiga pilihan sekolah yang tengah dipertimbangkan: SD "AAA" yang berorientasi modern dengan biaya yang cukup tinggi (Uang pangkal 15 juta dan SPP 3 juta per bulan), SD "BBB" yang berfokus pada pendidikan agama dan kurikulam yang cukup modern (Uang pangkal 7 juta dan SPP 1 juta per bulan), dan SD "CCC" yang merupakan sekolah konvensional dengan biaya terjangkau.




Dina, yang tumbuh di keluarga berkecukupan, merasa tidak rela jika Rana buah hati kesayangannya tidak mendapatkan pendidikan yang terbaik (mahal). Dia juga sering mendengar cerita dari teman-temannya tentang sekolah-sekolah mahal yang menawarkan program kreativitas dan kemampuan berbahasa asing. Sementara Rangga, berasal dari keluarga kurang mampu, percaya bahwa pendidikan konvensional telah membantunya sukses hingga saat ini. Rangga merasa cukup yakin bahwa karirnya akan terus membaik di masa depan dan kelak akan mampu menyekolahkan putra putri mereka hingga jenjang kuliah.


Keduanya memiliki harapan besar untuk Rana. Rangga ingin Rana memiliki kemampuan di bidang Science, Technology, Engineering, dan Mathematics (STEM) sejak dini, dan Dina sangat mendambkan gadis kecilnya fasih berbahasa asing, yang mau tidak mau harus diakui akan membuat dirinya bangga jika berjalan di keramaian atau supermarket menggandeng buah hati yang "cas-cis-cus" english nya.


Sadar atau tidak sadar, ada BIAS yang mungkin terlintas di benak Rangga dan Dina: gengsi. Bagaimana reaksi teman-teman dan keluarga mereka jika Rana bersekolah di tempat yang dianggap 'biasa' saja? Selain itu , cita-cita siapa yang lebih penting untuk diwujudkan ? Keinginan (ambisi) orangtua atau sang buah hati? Apakah benar Rana kelak mampu mewujudkan mimpinya menjadi DOkter? atau jangan-jangan dia sebenarnya lebih bahagia jika bakat seninya terus dikembangkan dan di berikan pendidikan yang mendukung minatnya?


Nah pembaca..Kira-kira bagaimana keputusan yang TEPAT sebaiknya dibuat?

 

Bagaimana aplikasi kondep MINDFUL ViBE bisa membantu pengambilan keputusan keluarga ini:

  • Methodical Analysis (M): Rangga dan Dina perlu memecah tantangan mereka secara sistematis. Mereka dapat menimbang pro dan kontra dari setiap pilihan sekolah, mempertimbangkan biaya, kurikulum, dan jarak dari rumah. mempertimbangkan Flexibilitas pendidkan sekolah terhadap pertumbuhan masa depan anak.

  • Intuitive Resonance (I): Keduanya harus mempercayai insting mereka. Mereka mungkin merasa lebih nyaman dengan salah satu sekolah berdasarkan pengalaman masa lalu atau rekomendasi dari teman.

  • Navigating Choices (N): Mengingat bahwa terlalu banyak pilihan bisa menyebabkan ketidakpastian. Mereka harus fokus pada pilihan yang sesuai dengan keyakinan inti keluarga.

  • Defined Goals (D): Mereka harus memiliki tujuan yang jelas untuk pendidikan Rana, apakah itu fokus pada STEM, bahasa asing, atau nilai-nilai agama.

  • Fear Recognition (F): Mengakui ketakutan mereka tentang gengsi dan bagaimana orang lain mungkin bereaksi terhadap pilihan mereka.

  • Understanding Paradoxes (U): Mereka harus memahami bahwa tidak ada pilihan yang sempurna; setiap sekolah akan memiliki kelebihan dan kekurangan.

  • Limiting Overwhelm (L): Dengan begitu banyak informasi yang tersedia, penting untuk fokus pada apa yang benar-benar penting bagi keluarga mereka.

  • Value Integration (Vi): Mengintegrasikan nilai-nilai keluarga ke dalam keputusan mereka. Apakah itu pendidikan agama, fokus pada STEM, atau bahasa asing.

  • Bias Evasion (B): Mengakui bias mereka sendiri, seperti gengsi, yakin akan kariri yang menanjak dan keuangan masa depan, serta bagaimana hal itu mungkin mempengaruhi keputusan mereka.

  • Empowered Decision-Making (E): Setelah mempertimbangkan semua faktor, Rangga dan Dina harus merasa yakin dengan keputusan mereka dan siap untuk mendukung pilihan mereka.


Perkiraan Dampak Keputusan :

  • SD "AAA": Rana mendapatkan pendidikan modern dengan fokus pada STEM dan bahasa asing. Namun, biaya tinggi mungkin mempengaruhi keuangan keluarga di masa depan.

  • SD "BBB": Rana mendapatkan pendidikan yang seimbang antara agama dan STEM. Biaya lebih terjangkau, tetapi mungkin kurang fokus pada bahasa asing.

  • SD "CCC": Meskipun biayanya paling terjangkau, pendidikan konvensional mungkin tidak memberikan Rana keterampilan tambahan seperti bahasa asing. Namun, fokus pada STEM tetap ada.

 

Bantulah Rangga dan Dina memilih sekolah untuk Rana

  • 0%SD "AAA"

  • 0%SD "BBB"

  • 0%SD "CCC"


Kisah Rangga dan Dina mengajarkan kita bahwa dalam mengambil keputusan, terutama yang berkaitan dengan masa depan anak, yang terpenting adalah kebahagiaan anak dalam menjalani masa-masa sekolah dan tumbuh kembang mereka di lingkungan sekolah. Sekolah mungkin bukan cuma tempat belajar, tapi tempat mereka belajar bersosialisasi dengan dunia di luar keluarga kecil mereka.


MIND+FUL ViBE membantu agar anda bisa menghasil keputusan yang "COOL"

C - Commit to personal growth, refining your values and combating biases.

O - Own your decisions, understanding they shape your journey.

O - Observe all possible outcomes, weighing pros and cons.

L - Learn from every choice, using missteps as growth opportunities.

15 views1 comment

1 Comment

Rated 0 out of 5 stars.
No ratings yet

Add a rating

before taking decision, we should think that our self never dissapointed itself to make a better next

after took, if we feel worse, just think that the decision will give the best for you and all parties in episodic.. so bersyukur , jalani, jangan menyesali dan harus berani untuk hal buruk setelah memilih keputusan

Like
bottom of page